[Aplikasi][feat2][6]

Menggugat Keberhasilan eProc dan Fakta ABT


pengadaan-galihgumelar. com - Sebuah pertanyaanya adalah apakah selalu keberhasilan sistem eProcurement diukur dari seberapa besar nilai penghematan anggaran? Apakah begitu juga kita menilai keberhasilan sebuah sistem manajemen pembangunan?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus terang juga telah lama menggelitik saya, terkait ukuran keberhasilan sistem eProcurement. Karena selama ini yang digembar-gemborkan adalah besaran angka penghematan anggaran.


Secara spontan muncul pemikiran bahwa bukan begitu caranya menilai keberhasilan sebuah manajemen pembagunan. Mestinya keberhasilan manajemen pembangunan diukur dari seberapa kecil koefisensi selisih antara perencanaan dengan realisasi. Jadi yang terpenting adalah efektifitas bukan hanya efisiensi anggaran.

Kalo demikian dimana letak pentingnya angka penghematan anggaran yang dicatat oleh sistem eProcurement? Setelah berdiskusi dengan Bapak Imam dari Kimpraswil akhirnya saya mendapat pencerahan. Hemat saya dalam sistem manajemen pembangunan setidaknya ada 3 domain yang patut diperhatikan yaitu: input, proses dan output.

Mazhab Input-Output

Selama ini dalam pandangan umum, yang dinilai adalah bagaimana input menghasilkan output. Nah, pola pandang seperti ini tentu akan menghasilkan indikator pengukuran berupa, seberapa tepat perencanaan pembangunan menghasilkan output yang diinginkan. Seberapa kecil selisih, baik selisih kurang atau selisih lebih, antara input perencanaan dengan realisasi dilapangan menjadi sangat penting.

Lalu ketika pendekatan input dan output ini diterapkan untuk menilai sistem eProcurement tentu akan bertentangan. Karena sistem eProcurement berada dalam domain PROSES dimana indikator keberhasilan lebih besar berada pada efisiensi. Seberapa besar impact atau dampak positif yang dihasilkan oleh sistem maka sebesar itu pulalah keberhasilannya. Salah satunya besaran nilai penghematan yang dicatat, selain dampak lain seperti meningkatnya kepercayaan publik, transparansi, nilai transaksi dan lain sebagainya.

Mazhab input-output yang melupakan proses ini, telah terbenam sungguh dalam di pola pikir kita. Sehingga penilaian terhadap keberhasilan pembangunan tidak menunjukan realitas yang sebenarnya. Salah satu yang paling kronis adalah adanya jargon ABT atau anggaran belanja tambahan dalam proses penganggaran belanja dan pendapatan daerah.

ABT dipahami sebagai output wajib dari sebuah perubahan anggaran. Padahal ABT adalah dampak dari sebuah proses penyusunan APBD. Akibatnya setiap menjelang akhir tahun anggaran pemerintah daerah segera berlomba-lomba menambah kegiatan. Karena sepertinya daerah selalu berhasil melakukan penghematan anggaran tahun lalu atau nilai PAD selalu naik ataupun komponen perubahan anggaran lainnya berubah positif, selalu!

Padahal kan tidak selalu begitu. Mungkin saja ada yang namanya ABK atau Anggaran Belanja Kurang, karena misalkan ada penurunan kurs rupiah terhadap dollar atau harga BBM melambung tinggi dan lainnya.

Data Pokok Anggaran Belanja

Saya pernah membaca blog Sekda Kab. Banjar, Ir. H. Yusni Anani, MPd. Didalam blog beliau (http://www.yusniaanani.com) terdapat tulisan terkait usulan APBD yang fleksible. Dalam pemahaman saya, fleksible yang dimaksud adalah APBD yang mampu berubah secara sistematis menyeimbangi perubahan komponen-komponen utama penyusun APBD.

Komponen yang dimaksudkan disini adalah data pokok penyusun APBD seperti tersurat pada Pasal 167 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Pasal 39 ayat (2) PP No. 58/2005 tentang Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang intinya bahwa belanja daerah mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur kinerja dan standar pelayanan minimal.

Oke, untuk mempersingkat pembahasan kita ambil komponen harga barang dan jasa saja. Tentu perubahan anggaran belanja tidak serta merta terjadi mengikuti perubahan harga barang dan jasa yang sedemikian fluktuatif. Apa kata dunia kalo APBD berubah setiap bulan. Tentu ada range atau batasan toleransi yang dapat menyebabkan perubahan. Disinilah peran penting sebuah Standar Harga Satuan Barang/Jasa (SHSB) dan Analisa Standart Biaya (ASB).

SHSB merupakan komponen yang berorientasi pada item harga satuan barang/jasa. SHSB ini semestinya bersifat update terhadap perubahan, minimal 6 bulan sekali harus dilakukan koreksi. Tentunya koreksi ini akan berdampak langsung pada ASB yang berorientasi unit cost. Rasanya terlalu panjang kalau dijelaskan secara rinci apa dan bagaimana sebuah ASB disusun, mudah-mudahan setelah saya belajar lebih jauh bisa dituliskan pada artikel lain.

Yang pasti, apabila komponen ASB berubah sedemikian jauh maka patut dipertimbangkan terjadinya perubahan APBD, yang kemudian disebut dengan APBD Perubahan.

Tentu kita ingat saat harga minyak mentah dunia meningkat tajam beberapa waktu lalu dan dengan serta merta disusunlah sebuah APBN Perubahan, bukan ABT lo! Pada saat itu SHSB berubah naik, sehingga komponen ASB yang telah disusun sudah tidak bisa dijadikan acuan. Lihat saja yang terjadi pada pos anggaran K/L (Kementerian/Lembaga) APBN-P, terjadi penghematan besar-besaran. Saya tidak rekomendasi ini baik atau tidak, cuma ingin menunjukkan bahwa yang terjadi adalah ABK bukan ABT, yang sering mengikuti perubahan APBD dibeberapa daerah.

Jadi mindset bahwa perubahan APBD itu adalah ABT adalah penilaian yang salah tempat. ABT berada diranah proses. ABT atau ABK adalah dampak dari proses yang bernama Perubahan APBD. Maka dalam ranah proses, semakin besar ABT, manajemen pembangunan berarti semakin efisien. Namun dalam ranah output semakin besar ABT tidak serta merta menyatakan bahwa pembangunan berhasil, bahkan mungkin dapat terindikasi tidak efektif. Penjelasannya adalah ternyata perencanaan awal tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan.

Demikian juga untuk menilai hasil eProcurement, dalam ranah proses, penghematan yang dihasilkan adalah prestasi. Tapi dalam ranah output perlu diteliti lagi, karena angka penghematan ini adalah sisa anggaran, yang berarti ada ketidaktepatan rencana anggaran biaya ataupun harga perkiraan sendiri. Pun juga dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan dan lain sebagainya.

Marilah kita menilai sebuah prestasi dari wilayah masing-masing. 


Sumber : http://samsulramli.wordpress.com

Post a Comment

1 komentar:

  1. Kami adalah perusahaan yang terdaftar, meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan mendesak, dan mereka yang telah ditolak kredit dari sana bank karena skor rendah kredit, pinjaman bisnis, pinjaman Pendidikan, mobil pinjaman, kredit rumah, kredit perusahaan (dll), atau untuk membayar utang buruk atau tagihan, atau yang telah scammed oleh pemberi pinjaman sebelum uang palsu? Selamat, Anda berada di tempat yang tepat, dapat diandalkan Pinjaman Perusahaan Ibu Kelly untuk memberikan pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat rendah dari 2% telah datang untuk mengakhiri semua masalah keuangan Anda sekali dan untuk semua, untuk informasi lebih lanjut dan pertanyaan hubungi kami melalui email perusahaan kami: kellywoodloanfirm@gmail.com
    Terima kasih
    Terima kasih dan Tuhan memberkati
    Ibu kelly

    BalasHapus